Info Haji dan Umroh

BELUM ADA ORGANISASI SEPERTI IPHI (IKATAN PERSAUDARAAN HAJI INDONESIA)

“IPHI itu organisasi excellent, mana ada organisasi kayak IPHI. Anggotanya harus ber’uang’ minimal Rp. 30 juta dan sudah pernah keluar negeri. Gak memenuhi syarat itu ya, gak bisa masuk anggota IPHI” demikian kelakar ketua IPHI pusat bapak Purnawirawan mayor jenderal Kurdi Mustofa ketika memberikan sambutan pada acara Training of trainer pembimbing haji di Hotel Asida kota batu Malang.

Maksud pak kurdi, IPHI itu syaratnya bagi anggota yang sudah mampu bayar ongkos naik haji (30juta rupiah) ke tanah suci mekkah di Arab Saudi (luar negeri). Dalam acara pembinaan yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Surabaya tersebut dilaksanakan selama tiga hari dari tanggal 23 -25 Maret 2011. pesertanya adalah angggota IPHI kabupaten dan Kepala KUA se Jawa Timur. Untuk kabupaten Pamekasan, Kasi Haji dan Umroh beserta Kepala KUA kecamatan Pademawu diberikan mandat untuk mengikuti training of trainer pembimbing haji tersebut.
Dalam sambutan pembukaan, kepala Bidang Penyelenggara Haji, Zakat dan Wakaf Bapak Drs. H.M. Asyhuri, MM. mengatakan “Kuota haji Indonesia tahun 1432 H sebanyak 211.000 diperuntukan jemaah haji reguler dan 17.000 untuk jamaah haji khusus sedangkan Alokasi porsi untuk provinsi dibagi secara proposional dengan rumus 1 permil dari penduduk muslim”. Kemudian dia membeberkan fakta “bahwa diantara sekian banyak jumlah jemaah haji, latar belakang person beraneka ragam baik dari pekerjaan, pendidikan maupun usianya”… “lha ini yang seringkali bikin pusing dalam pembinaan manasik hajinya, metode dan pendekatan apa yang pas bagi jemaah dengan keberadaan yang heterogen ini perlu dibicarakan bersama, agar jemaah yang beraneka ragam ini bisa memahami dan menguasai manasik haji baik teori mmaupun prakteknya” imbuh beliau.
Saya melihat data haji untuk latar belakang pendidikan saja misalnya untuk SD/MI berjumlah 16.072 orang; SMP/MTs = 5.396 orang; SMA/MA = 7.461 orang ; D-3 = 2.040 orang; S.1 = 6.263 orang; S.2 = 1.144 orang; S.3 = 62 orang dan Lain-lain berjumlah 17 orang. Untuk usia, 0 – 20 th. =267 orang; 21 – 30 th. = 1.624 orang; 31 – 40 th.= 6.543 orang; 41 – 50 th.= 12.473 orang; 51 – 60 th.=11.685 orang; 61 – 70 th.= 5.940 orang dan umur 71 – 90 th.= 1.907 orang diatas itu 91 thn = 13 orang. Kondisi demikian diperlukan startegi, pendekatan dan kurikulum yang tepat dalam pelaksanaan manasik haji.
Ada dua pendekatan yang ditawarkan oleh nara sumber dalam acara tersebut yaitu metode dan pendekatan andragogi dan metode pembelajaran kooperatif Jigsaw. Bapak Prof. Dr. H. Imam bawani Dosen Universitas malik Ibrahim Malang menjelaskan tentang metode Andargogi sedangakn motode Jigsaw disampaikan oleh Bapak Drs. H. M. Naim, M.Ag.
“Metode Andragogi bukan metode ‘anda grogi’ tetapi metode pembelajaran orang dewasa, dimana nara sumber bertindak sebagai fasilitator, sedangkan peserta yang belajar sendiri, menemukan sendiri jawaban dari persoalan yang dipelajari dalam proses pembelajaran” demikian pejelasan singkat dari pak prof. “namanya saja andragogi, makanya gak jauh berbeda mana guru dengan muridnya, guru hanya mengatur, mengelola, menyiapkan bahan dan alat pembelajarannya agar proses pembelajaran berjalan optimal sedangkan murid sebagai peserta pembelajaran memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan itu untuk membahas menyimpulkan dari apa yang dipelajarinya” imbuhnya.